TKP-Aja Langsung ye.!
#Jangan Ngeyel ., kalo ngeyel ane jedokin kepala ente ke-tembok
#Jangan Ngeyel ., kalo ngeyel ane jedokin kepala ente ke-tembok
Chapter 2: Penyamaran terbongkar!
Di sebuah ruang kecil yang redup tampak seorang gadis yang sedang berdiri tepat di depan sebuah cermin. Dilihat dari isi ruangan itu yang memiliki benda-benda seperti sabun, shampoo, sikat gigi, bak mandi, dan beberapa celana dalam yang tergantung asal-asalan di sebuah jemuran sederhana yang terbuat dari tali raffia, dapat dipastikan gadis itu sedang berada di dalam kamar mandi. Gadis itu membuka sebuah tas kecil berwarna hitam dan mengeluarkan isinya yang berupa gulungan perban. Dia kemudian membaluti dadanya menggunakan perban itu. Setelah selesai, dia mendekati seragam sekolah yang tergantung di pengait yang terdapat di belakang pintu kamar mandi. Tidak ingin membuang waktu, dia segera memakai seragam itu. Tubuhnya pun tertutupi oleh kemeja putih yang telah dipasangi dengan dasi berwarna senada dengan celananya, yaitu berwarna merah hati dengan motif kotak-kotak hitam putih. Dia kemudian melapisi kemeja yang agak kebesaran itu dengan menggunakan blazer hitam. Selesai dengan seragamnya, dia pun menyisir rambut coklat panjangnya hingga rapi. Dan sebagai penutupan, bagian ujung rambutnya diikat menggunakan karet kecil agar tidak berantakan. Gadis itu melihat pantulan dirinya di cermin sambil tersenyum. Setelah selesai, dia pun keluar dari kamar mandi dan tidak lupa membawa perbannya yang sudah dia masukkan ke dalam tas kecil.
Saat berada di luar, gadis bermata lavendar itu melihat sosok seorang pemuda yang masih terlelap di sebuah ranjang kecil yang berada tepat di samping ranjangnya. Dengkurannya terus saja menggema di dalam ruangan secara teratur. Setelah menyimpan tas kecilnya di salah satu lemari yang ada di situ, gadis itu segera duduk di pinggir ranjangnya sambil mengamati pemuda berwajah manis itu.
"Dia lebih manis saat sedang tidur..." gumamnya yang kini terlihat seperti seorang lelaki.
Siapa sebenarnya gadis itu? Kalian pasti tahu. Dia adalah Hinata Hyuga, gadis yang selama seminggu ini akan menyamar menjadi Neji Hyuga. Itu semua bermula saat sang kakak ingin ke luar negeri untuk bertemu kedua orangtuanya. Namun karena tidak mendapatkan izin dari pihak sekolah, maka Neji meminta Hinata untuk menggantikan perannya di sekolah maupun di asrama. Oleh karena itu, Hinata harus sekamar dengan Naruto-pemuda yang masih terlelap. Awalnya dia khawatir penyamarannya akan diketahui Naruto. Namun setelah melihat betapa polosnya pemuda itu, dia pun bisa bernapas lega.
Saat melihat jam di ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 pagi. Dia pun segera membangunkan Naruto.
"Naruto..." Hinata memegang pelan bahu Naruto yang tertidur dengan posisi bertiarap. Sebenarnya Hinata tidak berani membangunkan pemuda itu. Namun dia tidak ingin pergi ke sekolah sendirian karena orang yang dikenalnya hanyalah Naruto dan seseorang yang kini berada di asrama para gadis-Sakura Haruno.
"Naruto... bangun..." Perlahan suara merdunya membuat kelopak mata pemuda berambut blonde itu terbuka. Dia pun tersenyum senang. "Cepat bangun, Naruto..." ujar Hinata.
Naruto terdiam melihat Hinata yang sedang membungkuk ke arahnya. Itu membuat gadis yang ada di depannya tampak bingung. "Neji... kenapa suaramu begitu lembut?" tanyanya masih dengan posisi tiarap.
"Eh?"
"Padahal biasanya kau akan berteriak pakai toa tepat di telingaku sambil menginjakku dengan kejam." Wajah Naruto terlihat datar itu karena perasaan kantuk masih menyelimuti dirinya.
"Apa?" Hinata terbelalak. Dia tidak menyangka ternyata metode kakaknya untuk membangunkan Naruto sangat 'lembut'. LEMBUT!
"Hoaammm..." Naruto menguap lebar sambil menggaruk kepalanya. "Tapi sepertinya metode barumu ini lebih bagus daripada memakai toa. Buktinya aku dapat bangun dengan tenang tanpa khawatir gendang telingaku akan rusak," lanjutnya sambil tersenyum lebar.
Hinata pun tersenyum.
"Baiklah. Aku mandi dulu, Neji!" Naruto segera bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah lemari pakaiannya. dia kemudian membuka kaos hitamnya dengan sangat cepat-seolah-olah Hinata tidak ada di situ. Saat bermaksud membuka celananya, dia dihentikan oleh Hinata yang kebetulan sedang duduk di pinggir ranjangnya.
"A..apa yang kau lakukan?" Wajah Hinata tampak memerah.
"Eh?" Naruto hanya mengerutkan dahinya.
"Ke..kenapa kau membuka bajumu di sini?" tanyanya gugup.
"Ada apa denganmu, Neji? Bukankah ini sudah biasa? Kau juga sering melakukannya. Iya kan? Jadi santai saja," ujar Naruto dan kembali melanjutkan kegiatannya.
Hinata pun langsung membelakangi Naruto dengan wajah yang semerah kepiting rebus. Sedangkan Naruto dengan santainya hanya bersenandung ria. Setelah menanggalkan pakaiannya, Naruto segera masuk ke kamar mandi hanya dengan menggunakan sebuah handuk yang melingkar di pinggangnya. Dia pun bernapas lega setelah melihat Naruto menutup pintu kamar mandi. Beberapa detik kemudian, ponselnya berdering ditandai dengan terputarnya lagu Westlife berjudul I lay My Love on You.
Just a smile and the rain is gone... Can hardly believe it.. yeah...
There's an angel standing next to me reaching for my heart...
Just a smile and there's no way back... Can hardly believe it.. yeah...
But there's an angel calling me reaching for my heart...
Saat melihat ke layar ponsel, dia melihat tulisan 'Kak Neji calling...'.
"Kak Neji?" Hinata segera melihat ke arah kamar mandi. Siapa tahu Naruto masih ada di situ. Setelah memastikan semuanya aman, dia mengangkat panggilan itu.
"Hallo, Kak Neji..." jawab Hinata dengan nada pelan.
"Hei, Hinata. Apa kabar? Kau baik-baik saja kan?" tanya Neji dari seberang sana.
"I..iya. Kakak tenang saja," jawab Hinata.
"Kenapa suaramu begitu kecil?" tanya Neji.
"Naruto sedang mandi, Kak. Bisa gawat kalau dia mendengarku," jawab Hinata sambil melirik ke arah kamar mandi.
"Kau tenang saja, Hinata. Pendengaran anak itu sangat buruk. Meskipun kau meneriakinya pakai toa saat sedang tidur, dia tidak akan bangun," ujar Neji santai.
"Benarkah?" Hinata jadi ragu. Secara, waktu membangunkan Naruto dia sama sekali tidak berteriak-apalagi sampai memakai toa.
'Apa yang tadi hanya kebetulan?' batinnya.
"Apa kau sudah melihat Nona Tsunade?" tanya Neji.
"Belum,Kak. Memangnya ada apa?" Lagi-lagi Hinata melirik ke kamar mandi.
"Kau tidak boleh ketahuan olehnya, Hinata. Jika sampai ketahuan, kau dan aku akan dapat masalah besar. Meski berwajah cantik, tapi wanita itu sangat menakutkan. Intinya... dia adalah iblis berwajah malaikat," jelas Neji yang sukses membuat Hinata tertegun.
"Apa dia sangat menakutkan, Kak?" tanyanya.
"Sangat!" jawab Neji yakin-Hinata pun semakin gelisah.
"Aku jadi takut." Hinata tertunduk lemas.
"Tidak apa-apa. Kau hanya perlu bertahan beberapa hari di sana. Yang penting, jangan sampai terlibat dengan wanita itu! Kau pasti bisa, Hinata!" hibur Neji.
Hinata hanya bergumam kecil. Saat sedang sibuk memikirkan Tsunade, dia tiba-tiba teringat sesuatu.
" Oh, iya. Ada yang ingin aku tanyakan, Kak!" Hinata terlihat semangat.
"Apa?"
"Kemarin aku bertemu dengan gadis bernama Tenten. Apa hubungan kakak dengan gadis itu?" tanyanya to the point.
"..." Neji tidak menjawab.
"Kak Neji?" panggil Hinata.
"Ah... Sakura dan Naruto pasti mengatakan sesuatu padamu. Kau tidak perlu mendengarkan mereka... Aku dan Tenten hanya teman," ujar Neji.
"Benarkah?" Hinata merasa ragu.
"Aku serius!"
Hinata hanya ber-oh-ria sambil mengangguk pelan. Jujur saja, dia tidak puas dengan jawaban Neji.
"Lalu... bagaimana dengan Ayah dah Ibu?" tanya Hinata sedikit ragu. Itu karena dia sudah membuat keputusan untuk tinggal di Konoha selama seminggu tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Mereka pasti sangat mengkhawatirkannya-terutama sang ibu.
"Ah... asal kau tahu, Hinata. Saat ini Ibu sedang menangis," ujar Neji.
Hinata terbelalak.
"A..apa yang terjadi, Kak? Ke..kenapa Ibu menangis?" Suaranya meninggi.
"Ah... Penyebabnya ada dua hal. Pertama, Ibu senang dengan kedatanganku. Kedua, Ibu sedih dengan kepergianmu," jawab Neji singkat. "Tapi Kau tenang saja. Aku akan menjelaskan semuanya pada Ayah dan Ibu. Jadi, jangan khawatir. Ok?" hiburnya.
"Aku jadi merasa bersalah pada mereka..." Hinata tertunduk sedih.
"Kau tidak perlu merasa bersalah, Hinata. Bukankah kau melakukan ini agar aku dapat bertemu dengan mereka? Kau sudah melakukan hal yang benar. Yah... meskipun sedikit berbahaya sih,"balas Neji.
Hinata diam saja.
"Neji! Apa itu Hinata?"
Hinata terpaku mendengar suara seorang wanita dari seberang sana. Suara itu sudah sangat familiar di telinganya karena pemilik dari suara itu adalah seorang wanita yang telah melahirkannya-ibunya.
"I..ibu?"
"Ini bukan Hinata, Bu. Aku hanya menelpon temanku," bohong Neji.
"Tidak! Ibu yakin itu Hinata. Hati seorang ibu tidak dapat dibohongi oleh tipuan seperti itu! Cepat serahkan ponselmu, Neji!" teriak ibunya dengan nada memerintah.
"Ibu, ini bukan Hina- HUWAHHH!"
Hinata terbelalak mendengar teriakan Neji yang memekakkan telinga. Entah apa yang sudah terjadi di sana. Mungkin ibunya sedang mengikat Neji demi merampas ponsel putranya. Atau bisa jadi ibunya baru saja meng-smack down Neji. Entahlah.
"Hallo, Hinata! Ini Hinata. Iya kan?" tanya ibunya dengan suara lantang. Hal itu membuat Hinata menjauhkan ponsel dari telinganya. Jika tidak, gendang telinganya bisa saja hancur berkeping-keping. Ok. Mungkin itu sangat berlebihan.
"Hinata!" teriak ibunya.
"I..iya, Bu. Ini aku," jawab Hinata takut-takut.
"Astaga anakku Hinata. Apa yang kau lakukan di Konoha sendirian, Nak? Ibu mengkhawatirkanmu? Cepat kembali!" perintah Ibunya.
"A..aku pasti kembali, Bu. Aku di sini hanya untuk sementara waktu. Ibu tenang saja!" jelas Hinata yang berusaha menjaga nada suaranya agar Naruto tidak bisa mendengarnya.
"Kau menginap di mana, Sayang?" tanya Ibunya dengan suara yang bergetar. Dia berani taruhan, ibunya pasti sedang menangis di sana.
Saat Hinata ingin menjawab pertanyaan ibunya, tiba-tiba saja kepala Naruto yang penuh dengan busa shampoo muncul dari balik pintu kamar mandi. Dia pun terbelalak kaget melihat pemuda itu.
"Hei, Neji. Apa kau melihat celana dalamku?" tanya Naruto sambil menyembunyikan tubuh telanjangnya di balik pintu.
"Hinata! Jawab, Ibu! Kau menginap di mana?" tuntut Ibu Hinata tidak sabar.
Hinata bingung harus menjawab pertanyaan siapa duluan. Karena tidak ingin Naruto terus berada di situ dengan tubuh setengah telanjang, dia pun memilih menjawab pertanyaan bodoh dari pemuda blonde itu.
"Eh? Di da..dalam kamar mandi," jawab Hinata gugup. Saat berada di dalam kamar mandi, dia memang sempat melihat celana dalam yang sedang tergantung di jemuran yang terbuat dari tali raffia. Jadi Hinata menebak celana bermotif Spongebob itu pasti milik Naruto.
Karena berpikir Hinata sedang berbicara padanya, ibu Hinata langsung berteriak histeris.
"Tidakkk! Kenapa kau menginap di kamar mandi, Sayang? Kenapa tidak menginap di rumah Neji?" tanya ibunya panik.
"Bu..bukan itu maksudku!" jawab Hinata pada ibunya.
Lagi-lagi kesalahpahaman terjadi. Naruto berpikir gadis itu sedang berbicara padanya. Dia pun mengerutkan dahinya.
"Kalau bukan di kamar mandi, lalu di mana?" tanya Naruto kesal. "Jangan bilang kau memakainya," tebak Naruto asal-asalan.
Hinata pun semakin bingung.
"Neji! Lihat adikmu yang malang! Gara-gara kau meninggalkannya sendirian di Konoha, dia sampai menginap di kamar mandi! Bagaimana bisa seorang ibu membiarkan putrinya menginap di kamar mandi? Huwahh! Ibu gagal menjadi seorang ibu!" pekik Ibunya yang menurut Hinata sangat berlebihan. Gadis itu berani taruhan, ibunya saat ini pasti sedang menangis tersedu-sedu sambil menarik baju Neji atau bisa juga ibunya sedang menjambak rambut Neji karena kesal, panik, plus khawatir.
"Ibu, Hinata baik-baik saja. Saat ini dia sedang berperan menjadi aku di sekolah. Jadi dia tidak mungkin menginap di kamar mandi, Bu. " jelas Neji dari seberang sana.
"Apa? Ja..jadi maksudmu dia sedang menyamar menjadi lelaki? Bergaul dengan lelaki? Sekamar dengan lelaki?" tanya ibunya yang semakin histeris.
"Iya," jawab Neji singkat namun berhasil membuat ibunya berteriak histeris dengan sangat panjang.
"Hinata! Apa itu benar, Sayang? Jadi saat ini kau sedang memakai pakaian Neji?" tanya ibunya.
"I..iya. Aku sedang memakainya. Ma..maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu," jawab Hinata gugup.
Di lain sisi, Naruto menganga lebar setelah mendengar penuturan Hinata. Dia berpikir gadis itu sedang berbicara padanya.
"APA?" Teriakan Naruto membuat gadis yang sedang sibuk bicara dengan ibunya itu melihat ke arahnya. Gadis itu tampak bingung melihat ekspresi kaget Naruto.
"Untuk apa kau memakai celana dalamku, Neji?" tanya Naruto tidak percaya. Dia berpikir celana dalam kesayangannya dipakai oleh Hinata. Padahal itu hil yang mustahal alias hal yang mustahil!
"Hinata, suara siapa itu?" Ibunya kaget mendengar teriakan Naruto yang melebihi teriakan para gadis yang sedang bergosip.
"Apa kau tidak punya celana dalam, Neji?" tanya Naruto masih dengan ekspresi kagetnya.
"Hinata kau sedang bersama siapa?" tuntut ibunya.
"Cepat kembalikan!" perintah Naruto kesal.
"Hinata!" panggil ibunya.
"Kembalikan!" Naruto mengulurkan tangan kanannya ke arah Hinata yang sedang duduk di pinggir ranjangnya.
Hinata benar-benar pusing sekarang. Dia melihat ponselnya dan Naruto secara bergantian. Antara ibunya dan Naruto, pertanyaan siapa yang akan dia jawab duluan? Hinata benar-benar tidak bisa berpikir dengan benar karena saat ini dia sedang panik. Akhirnya tanpa berpikir panjang, dia pun berteriak kesal.
"AKU TIDAK MEMAKAI CELANA DALAMMU, NARUTO! CELANAMU ITU ADA DI DALAM KAMAR MANDI! DAN SEKARANG, AKU SEDANG BERBICARA DENGAN IBUKU! JADI BERHENTILAH BERTANYA PADAKU TENTANG CELANA DALAM SPONGEBOB-MU ITU! KEMBALI KE DALAM, DAN SEGERA BERSIHKAN BUSA-BUSA DARI KEPALAMU ITU!" Dia pun terengah-engah setelah mengatakan itu semua. Siapa sangka gadis sepertinya bisa juga terlihat mengerikan seperti Sakura.
"Ah... kenapa tidak bilang dari tadi?" Dan dengan santainya, Naruto kembali ke dalam kamar mandi seolah-olah Hinata hanyalah seorang penjual pentolan yang kebetulan lewat sambil mempromosikan pentolannya.
"Hinata apa yang terjadi? Kau sedang berbicara dengan siapa?" tanya ibu Hinata khawatir.
Namun gadis itu diam saja. Dia sedang menenangkan dirinya yang sempat kehilangan kendali itu. 'Maafkan aku, Naruto...' batinnya menyesal.
Setelah merasa tenang,dia pun kembali fokus pada ibunya. "Aku sedang bersama Naruto, Bu. Dia teman sekamar Kak Neji. Tapi ibu tenang saja. Naruto orang yang baik kok. Yah... meskipun dia agak bodoh," jelas Hinata sambil melirik ke arah kamar mandi.
"Hinata! Kenapa kau begitu nekat, Sayang?" tanya ibunya lirih.
Hinata terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Ibu, aku akan jelaskan semuanya. Jadi jangan membuat Hinata merasa bersalah," tegur Neji dari seberang sana. "Hinata, kau tenang saja. Ok? Cukup jalani misimu di sana dan segera kembali ke sini setelah enam hari. Aku yakin, kau pasti bisa, Adikku!" hibur Neji yang dibalas dengan senyum manis dari Hinata.
"Baiklah. Sudah dulu, ya? Aku harus menjelaskan semuanya pada Ibu. Jaga kesehatanmu, Hinata!" Setelah mengatakan itu, Neji memutuskan panggilan.
"Maafkan aku, Ibu..." gumam Hinata sambil melihat layar ponselnya.
Oo*w*oO
Hinata dan Naruto baru saja memasuki halaman sekolah yang tampak ramai karena para siswa Enda High School sudah mulai berdatangan. Sambil terus mengikuti langkah Naruto dari belakang, Hinata mengedarkan pandangannya untuk melihat daerah sekitar yang tidak sempat dilihatnya kemarin. Di sana, penuh dengan tanaman bunga dan beberapa pohon rindang. Tampak beberapa siswa yang sedang berkumpul di bawah pohon yang rindang itu sambil melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang sedang membaca, bermain laptop, makan snack, dan ada juga yang hanya sekedar duduk di sana sambil menikmati udara segar.
'Nyaman sekali...' pikir Hinata. Dia juga ingin ke sana, namun misinya bukanlah untuk bersenang-senang, melainkan menggantikan peran Neji.
Dia kemudian memperhatikan tingkah orang-orang yang ada di situ. Semuanya tampak sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak ada satupun yang melihat curiga ke arahnya. Itu membuat Hinata merasa lega karena itu artinya penyamarannya berhasil.
Saat berada di lantai dua gedung sekolah, Hinata melihat Sakura sedang berdiri tepat di depan sebuah jendela besar. Gadis itu terlihat sedang melamun.
"Selamat pagi, Sakura!" Hinata mendekati Sakura dengan riang.
Tidak mau kalah, Naruto juga menyapa Sakura dengan nada riang. "Selamat pagi, Sakura-chan!" teriaknya sambil memamerkan deretan giginya yang rapi.
Sakura pun tersadar dari lamunannya. "Eh? Naruto, Neji? Selamat pagi." balas Sakura. Dia kemudian menatap aneh ke arah Hinata. "Ada apa denganmu, Neji?" tanyanya sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Eh? Apa maksudmu?" Hinata memiringkan kepalanya ke samping dan terlihat sangat polos.
"Kau aneh," jawab Sakura.
"Neji memang aneh, Sakura! Hahahaha..." ejek Naruto yang langsung mendapat jitakan dari Sakura.
"Auw! Sakit, Sakura!" Naruto memegang kepalanya dan mulutnya sengaja dimanyunkan agar terlihat imut. Sedangkan gadis berambut soft pink itu hanya memutar bola matanya bosan.
Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja Hinata melihat seorang pemuda berambut raven yang muncul dari belakang Sakura. Sebagai seorang gadis, Hinata terkesima melihat ketampanan pemuda itu. Kulitnya seputih susu, bibirnya merona merah, dan kedua bola matanya berwarna onyx. Tatapan pemuda itu sangat tajam-membuat Hinata merasa sedikit takut.
Menyadari keberadaan pemuda tampan itu, Sakura segera membalikkan tubuhnya. Dia pun tertegun dan wajahnya tampak merona merah.
"Se..selamat pagi, Sasuke-kun!" sapa Sakura malu-malu.
Pemuda bernama Sasuke itu hanya tersenyum tipis-membuat Sakura semakin memerah.
'Jadi... dia pacar Sakura? Keren sekali!' pikir Hinata sambil mengamati Sasuke mulai dari ujung kaki sampai kepala.
Merasa diperhatikan, pemuda berwajah dingin itu melihat ke arah Hinata sambil menaikkan salah satu alisnya. "Apa?" tanyanya.
"Ti..tidak!" jawab Hinata gugup.
"Untuk apa kau ke sini, Sasuke?" Naruto tampak kesal. Itu karena pemuda bermata onyx itu telah merebut Sakura darinya. Padahal dia sudah lama menyukai gadis itu.
"Memangnya kenapa?" Sasuke menaikkan salah satu alisnya.
"Tentu saja kau menggangguku! Hanya dengan melihat wajahmu, mataku terasa perih!" Naruto memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia tampak sangat kesal.
"Oh iya? Asal kau tahu saja. Hanya dengan mendengar namamu, gendang telingaku terasa ingin pecah!" ejek Sasuke dengan nada sinis.
"Apa? Asal kau tahu saja! Mencium baumu membuatku ingin muntah!" teriak Naruto kesal sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah pemuda berambut raven itu.
"Kau pikir aku suka berada di dekatmu? Mencium bau badanmu membuat bulu hidungku rontok semua!" Sasuke menutup hidungnya seolah-olah Naruto adalah kumpulan kotoran kambing yang belum juga dibersihkan meski telah berumur seminggu.
Naruto pun semakin kesal dan segera membalas ejekan Sasuke dengan ejekan yang lebih dahsyat. Sakura dan Hinata diam saja menyaksikan mereka.
Beberapa menit kemudian, bel tanda masuk dibunyikan. Itu membuat Naruto dan Sasuke terdiam.
"Sakura, aku ke kelas dulu." Setelah mengatakan itu, Sasuke segera menuju ke kelasnya. Sedangkan Naruto mendecih kesal. Itu karena dia masih sakit hati dengan ejekan Sasuke. Istilah Bugis-nya sih mapeddi' atikku!
Saat berada di dalam kelas, Hinata hanya duduk manis di bangkunya. Itu karena dia belum terbiasa dengan situasi kelas yang ributnya minta ampun. Karena bosan, dia pun mencoret-coret bukunya menggunakan bolpoin tinta hitam.
Di saat semua sedang sibuk dengan urusan masing-masing, seseorang tiba-tiba mendobrak pintu kelas dengan sangat kasar. Sontak kelas yang tadinya berisik seperti pasar ikan berubah menjadi hening. Hinata yang sedang mencoret-coret bukunya pun langsung menghentikan kegiatannya dan segera melihat ke arah pintu. Semuanya tampak gugup karena dikiranya orang yang baru saja mendobrak pintu adalah Tsunade-iblis berwajah malaikat. Dengan slow motion, mereka melihat sosok yang mulai memasuki kelas mereka. Rambut cokelatnya tampak berantakan, tato merah di kedua pipinya tampak bercahaya, kedua matanya berkilau, dan saat tersenyum giginya bersinar. Cling!
Wajah gugup mereka pun langsung berubah menjadi wajah kesal karena ternyata yang mendobrak pintu hanyalah seorang bocah ingusan yang seumuran dengan mereka, Kiba Inuzuka. Dengan santai-tanpa menghiraukan keluhan dari teman-temannya, Kiba berdiri tepat di depan kelas sambil tersenyum lebar. "Selamat pagi, Teman-teman! Kiba Inuzuka dan Akamaru sudah tiba!" teriak pemuda itu sambil mengacungkan jempol kanannya sedangkan tangan kirinya sedang menggendong seekor anak anjing berwarna putih.
"Guukk!" Anjingnya pun mengucapkan selamat pagi pada teman sekelasnya, meskipun tidak ada yang mengerti.
"Kau membuat kami kaget, Kiba!" protes salah satu siswa yang ada di situ.
"Oh, C'mon! Jangan terlalu tegang!" ujar pemuda itu sambil mengibaskan tangan kanannya.
Hinata terdiam melihat anak anjing yang ada di pelukan Kiba. Dia jadi penasaran dengan peraturan yang ada di sekolah ini. Apa semua siswa diperbolehkan membawa hewan peliharaan ke sekolah? Jika benar, dia juga akan membawa Mimi-hewan peliharaannya. Jika kalian berpikir Mimi adalah seekor kucing. Maka kalian salah! Seekor anjing? Salah! Seekor kelinci? Salah! Seekor hamster? Lagi-lagi salah! Yang benar adalah seekor monyet betina. Ya. Mo-nyet! Sebenarnya Hinata merupakan penggemar berat monyet karena menurutnya seekor monyet merupakan pencari kutu yang handal. Makanya saat pertama kali memelihara Mimi-monyet kesayangannya, Hinata terus saja bermimpi tentang monyet selama tujuh hari tujuh malam. Dan ajaibnya, dia menganggap mimpi itu adalah mimpi terindah yang pernah dia dapatkan.
'Ah... Mimi!' Hinata tiba-tiba teringat monyetnya. Entah apa yang sedang dia lakukan di sana.
Hinata kemudian melihat ke arah Kiba yang kini mendekati sebuah bangku yang berada tepat di depan bangkunya. Pemuda bertato itu kemudian mendudukinya dan segera meletakkan anjingnya-Akamaru ke atas meja.
"Hei, Kiba. Kenapa kau membawa Akamaru ke sini? Bukannya Nona Tsunade sudah pernah melarangmu?" tanya Naruto sambil terduduk di bangkunya yang berada tepat di samping Hinata.
"Naruto, benar. Bukankah kita di larang membawa hewan peliharaan ke sekolah?" Sakura juga ikut berkomentar. Gadis itu sedang bersandar di bangkunya yang berada tepat di belakang Hinata. Jadi dengan kata lain, bangku Kiba berada di depan bangku Hinata, Naruto berada di sampingnya, dan Sakura di belakangnya.
'Ah... jadi di sini di larang membawa hewan peliharaan, ya? Berarti aku tidak bisa membawa Mimi...' pikir Hinata yang merasa agak kecewa.
"Aku tahu. Tapi aku tidak tega meninggalkan Akamaru sendirian di asrama," jawab Kiba sambil mengelus Akamaru yang kini berada di atas meja Hinata.
Naruto dan Sakura hanya ber-oh-ria. Sedangkan Hinata sedang menatap Akamaru yang menurutnya lumayan imut. Ya. Hanya 'lumayan'. Itu karena, menurutnya monyetnya adalah hewan terimut di dunia.
"Hai!" Hinata menyapa Akamaru yang tampak sangat jinak.
Saat melihat ke arah Hinata, Akamaru langsung menggonggong.
"Guk! Guk! Guk!"
Hinata pun terdiam kaku.
"Eh? Ada apa, Akamaru?" Kiba tampak bingung.
"Sudah lama aku tidak melihat Akamaru menggonggong seperti itu," komentar Naruto yang dibalas dengan anggukan setuju oleh Sakura.
Sebagai seekor anjing, Akamaru dapat membedakan mana Neji yang asli dan palsu. Hal itu dapat dia ketahui hanya dengan mencium bau Hinata yang terasa asing di hidungnya.
"Guk! Guk!"
"Ada apa dengan Neji, Akamaru? Bukankah kalian berdua sangat akrab?" tanya Sakura yang bingung melihat tingkah anjing putih itu.
Akamaru tidak suka dengan Hinata karena menurutnya gadis itu orang asing. Prinsip Akamaru adalah,'Stranger harus dimusnahkan because mereka pelit!' . Prinsip itu muncul sejak beberapa bulan yang lalu ketika Akamaru mengalami suatu trauma mengenaskan yang jika diceritakan sekarang akan membuat halaman ini menjadi banjir oleh airmata anjing itu.
"Akamaru hanya akan bertingkah seperti ini saat dia bertemu orang asing," ujar Kiba.
"Jadi maksudmu Neji adalah orang asing. Oh, ayolah! Jangan bercanda!" balas Naruto sambil mengibaskan tangannya.
"Orang asing?" gumam Sakura serius. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu.
'Jika Akamaru tiba-tiba membenci Neji karena menurutnya Neji adalah orang asing, itu tidak mungkin. Tapi... jika orang yang ada di depanku ini bukanlah Neji... itu wajar saja. Atau jangan-jangan...' Sakura membelalakkan matanya.
'Tunggu dulu! Sejak kemarin tingkah Neji sudah sangat aneh. Dia bahkan tidak tahu lokasi WC ada di mana. Selain itu, aku juga belum pernah melihat dia mengumpat atau memukul Naruto. Di tambah lagi... dia selalu terlihat gugup. Jangan-jangan dia adalah...' Sakura melihat punggung Hinata dengan ekspresi tidak percaya.
'Jangan-jangan dia adalah... HINATA!' batin Sakura histeris.
"Ada apa, Sakura?" Naruto bingung melihat Sakura yang tampak syok sambil memegang dadanya. Hidungnya tampak memerah karena sedang menahan suatu gejolak yang tiba-tiba saja terbesit di dalam dadanya.
"Eh? A..apa?" Sakura melihat Naruto.
"Aku bilang, ada apa, Sakura?" ulang Naruto.
"Oh... I..itu... Aku hanya teringat tentang PR-ku. A..aku lupa mengerjakannya," bohong Sakura sambil memegang leher bagian belakangnya-berusaha menutupi kegelisahannya.
Naruto hanya ber-oh-ria. Dasar polos!
Beberapa saat kemudian, kelas kembali hening. Itu karena seorang pria berambut perak yang tampak menutupi sebagian wajahnya menggunakan masker hitam baru saja memasuki kelas. Kiba pun segera menyembunyikan Akamaru di dalam lacinya.
"Selamat pagi, Anak-anak!" sapa pria itu setelah berada tepat di depan meja guru.
"Selamat pagi, Kakashi-sensei!"
"Baiklah. Aku tidak ingin membuang-buang waktu. Segera kumpulkan PR kalian!" ujar pria bernama Kakashi itu.
Hal itu membuat Hinata, Naruto, Sakura, dan Kiba terbelalak. Diantara mereka berempat, Sakuralah yang terlihat paling syok. Itu karena dia benar-benar lupa tentang PR yang Kakashi maksud. Padahal baru saja dia membohongi Naruto kalau dia lupa mengerjakan PR. Dia benar-benar mendapat karma.
"PR?" Sakura dan yang lainnya menatap Kakashi tidak percaya. Mereka berharap agar gurunya itu segera mengatakan kalau dia hanya bercanda karena dia hanya ingin membuat surprise untuk murid-muridnya tercinta. Namun harapan mereka sirna saat Kakashi justru berkata,"Iya. Segera kumpulkan PR kalian."
"Apa harus dikumpul sekarang juga, Kakashi-sensei?" tanya Sakura.
"Tentu saja, Nona Haruno." Kakashi tampak tersenyum meskipun wajahnya tertutupi masker.
'Aku tidak tahu tidak itu...' pikir Hinata pasrah.
Dia tidak tahu tentang keberadaan PR itu. Secara, Neji tidak pernah memberitahunya. Sedangkan Naruto keasyikan bermain play station, makanya dia lupa. Kalau Sakura, dia sibuk memikirkan Sasuke, makanya dia juga lupa tentang PR-nya. Kiba? Pemuda itu terlalu keasyikan bermain bersama Akamaru. Makanya di otaknya hanya ada Akamaru, Akamaru, dan Akamaru. Guk!
"Tapi aku belum mengerjakannya, Kakashi-sensei..." ujar Kiba dengan wajah memelas.
"Tidak masalah," jawab Kakashi santai.
"Benarkah?" Naruto langsung bersemangat.
"Iya. Kalian hanya perlu keluar dari kelas ini sampai jam mengajarku selesai. Jadi... silahkan keluar sekarang juga..." usir Kakashi dengan nada halus namun menyakitkan hati.
"Yah... Sama saja bohong!" keluh Naruto.
Kakashi hanya tertawa kecil.
Akhirnya, Naruto dan yang lainnya pun segera keluar dari kelas. Saat berada di luar, mereka segera duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu.
"Kenapa kau membawa Akamaru keluar?" Naruto melirik Akamaru yang berada di pangkuan Kiba.
"Aku tidak tega meninggalkannya di laci yang penuh dengan tumpukan sampahku. Aku juga punya perasaan," jawab Kiba sambil mengelus punggung Akamaru.
"Guk! Guk! Guk!" balas Akamaru.
"Kau benar, Akamaru. Kita akan berada di sini sampai jam pelajaran Kakashi-sensei berakhir," ujar Kiba yang sok mengerti bahasa anjing. Padahal maksud Akamaru adalah dia ingin pipis. Tapi dari tadi Kiba tidak juga mengantarnya ke WC.
"Guk! Guk! Guk!" Akamaru berusaha menjelaskan maksudnya. Tapi Kiba hanya mengelus punggungnya.
"Ssstt... diam!" ujar Sakura tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Naruto.
"Nona Tsunade datang!" bisik Sakura.
"Apa?" Kiba tampak panik. Dia pun segera menyembunyikan Akamaru di dalam blazer hitamnya.
"Nona Tsunade?" Hinata menaikkan salah satu alisnya. "Di mana?" tanyanya.
Sakura, Naruto, dan Kiba pun segera memberi kode mata padanya agar segera melihat ke arah kanan. Saat memalingkan wajahnya ke sebelah kanan, dia melihat seorang wanita cantik yang sedang berjalan ke arahnya. Hanya dengan melihatnya, Hinata dapat merasakan aura-aura menusuk dari wanita itu. Tatapan matanya begitu tajam-setajam silet, rambut blonde-nya tampak menyala seperti kobaran api, dan bibirnya yang terlapisi lipstik berwarna pink tampak berkilau saat bertemu dengan pantulan sinar matahari. Dialah Tsunade-Iblis berwajah malaikat.
"Kenapa kalian ada di luar? Cepat masuk!" perintah Tsunade saat melihat Hinata dan yang lainnya berada di luar kelas.
"Ta.. tapi, Nona Tsunade. Ka..kami sedang dihukum..." jawab Sakura ragu-ragu.
Tsunade mengangkat salah satu alisnya dan menatap gadis yang ada di depannya dengan tatapan menusuk. "Jadi-kesalahan-apa-yang-sudah-kau-dan-teman-temanmu-lakukan-Sakura?" tanyanya sedang suara yang membuat Hinata bergidik ngeri.
Sakura diam saja. Dia terlalu gugup sampai-sampai tidak sanggup bersuara.
"Jawab aku!" bentak Tsunade sambil menghentakkan kaki kanannya ke lantai.
"I..itu.. Ka..kami tidak mengerjakan PR..." jawab Kiba sambil melindungi Akamaru yang ada di dalam blazer-nya. Jika sampai ketahuan oleh Tsunade, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada anjing kesayangannya. Mungkin Akamaru akan dibakar hidup-hidup seperti yang pernah Tsunade katakan padanya.
"Apa?" Tsunade melototi mereka-termasuk Hinata yang kini tampak memucat.
"Ma..maaf, Nona Tsunade! Kami tidak akan mengulanginya lagi..." ujar Sakura yang langsung memalingkan pandangannya ke mana saja-yang penting tidak bertemu dengan mata Tsunade.
Wanita galak itu tampak kesal. Namun setelah itu, dia menghembuskan napas panjang.
"Kalian beruntung karena saat ini aku sedang buru-buru. Jika tidak, kalian semua akan mendapatkan hukuman dariku!" ujar Tsunade tegas. "Termasuk Akamaru yang ada di balik blazer-mu itu, Kiba!" tunjuk Tsunade ke arah blazer Kiba.
Deg!
Kiba tampak kaku. Dia tidak menyangka Tsunade bisa mengetahuinya. Untungnya setelah mengatakan itu, wanita itu segera melangkahkan kakinya dengan buru-buru.
"Ah... Kita selamat, Akamaru!" Kiba segera mengeluarkan Akamaru dari dalam blazer-nya.
"Guk! Guk!" balas Akamaru.
"Kau tenang saja. Dia tidak akan menyakitimu." Kiba tersenyum lembut ke arah anjing putih itu. Padahal maksud Akamaru adalah, dia tidak tahan berada di dalam blazer Kiba. Itu karena tubuh Kiba lebih bau dari pada tubuhnya.
Hinata tidak menyangka wanita itu bisa begitu menakutkan. Padahal wajahnya sangat cantik.
'Dia benar-benar Iblis berwajah malaikat...' batinnya.
Oo*w*oO
Sepulang sekolah, Sakura segera menyeret Hinata ke sebuah pohon besar yang terdapat di taman-samping gedung sekolah. Saat berada tepat di bawah pohon yang katanya sudah berumur seratus tahun itu, Sakura langsung mengintrogasi Hinata.
"Kau menyembunyikan sesuatu kan?" tebak Sakura sambil memegang erat bahu Hinata.
"A..apa maksudmu?" tanya Hinata.
"Aku tahu, kau bukan Neji. Tapi... Hinata. Aku benar kan?" Sakura tampak bersemangat.
Hinata terdiam. Dari awal dia memang sudah berniat memberitahukan penyamarannya pada Sakura, makanya saat mendapat pertanyaan seperti itu, dia tidak terlalu terkejut.
"Aku benar kan? Kau benar-benar Hinata. Iya kan?" Sakura tampak tidak sabar.
Hinata pun membalasnya dengan anggukan pelan. Itu membuat Sakura menganga lebar.
"Kyaaa! Hinata!" Sakura langsung memeluk gadis bermata lavendar itu dengan sangat erat.
"Sa..Sakura... O..orang bisa salah paham jika melihat kita." Hinata sulit bernapas karena pelukan Sakura terlalu erat.
"Oh. Maaf! Aku terlalu senang. Hehehehehe... Tapi kenapa kau bisa ada di sini? Lalu ke mana Neji?" tanya Sakura setelah melepas pelukannya.
"Ce..ceritanya seperti ini..." Hinata mulai menceritakan yang sebenarnya.
.
.
"Apa? Jadi maksudmu Neji sedang berada di luar negeri?" teriak Sakura tidak percaya.
"Ssstt... O..orang-orang bisa mendengarmu, Sakura..." tegur Hinata sambil mengamati daerah sekitarnya.
Sakura tidak terima saat mengetahui Neji berada di luar negeri. Dia benar-benar terpukul karena saat meminta libur selama sehari pada Tsunade, dia tidak mendapatkan izin. Padahal dia sudah memelas mati-matian. Sedangkan Neji, tanpa memelas pada Tsunade, dia bisa ke luar negeri. Dan parahnya, dia pergi selama seminggu! Seminggu! Sakura merasa dunia tidak adil padanya.
Hinata kemudian mengamati pohon besar yang ada di belakangnya. Batang pohon itu penuh dengan ukiran-ukiran. Dia pun menyentuhnya. "Kenapa pohon ini penuh dengan ukiran?" tanyanya penasaran.
"Itu karena penghuni sekolah ini meyakini, jika ada seseorang menyatakan cinta pada orang yang disukainya tepat di bawah pohon ini dan setelah itu membuat ukiran di sini, maka mereka akan hidup bahagia. Terdengar kekanak-kanakan memang, tapi aku juga mempercayainya. Hehehehehe... Dan asal kau tahu saja, Hinata. Pohon ini sudah berumur seratus tahun," jelas Sakura yang kini ikut menyentuh pohon besar itu.
"Wow! Aku baru dengar tentang hal itu." Hinata terkesima mendengar penuturan Sakura.
Sakura kemudian mengelilingi pohon itu sambil mencari salah satu ukiran tua untuk diperlihatkan pada Hinata. Saat menemukannya, dia segera memanggil Hinata. "Hinata, kau harus melihat ukiran yang satu ini."
Karena penasaran, Hinata segera mendekat dan membaca ukiran tua yang Sakura tunjuk. "Minato n' Kushina. Siapa mereka?" tanyanya dengan dahi yang mengerut.
"Mereka adalah ayah dan ibu Naruto," jawab Sakura.
"Eh?" Hinata tertegun.
"Romantis kan? Kata Naruto, ukiran ini dibuat saat kedua orangtuanya masih seumuran kita. Bukan hanya mereka. Lihat ini, Hinata! Asuma + Kurenai. Mereka adalah sepasang suami-istri yang menjadi guru di sini. Asuma-sensei seorang guru matematika dan Kurenai-sensei seorang guru IPS. Katanya, ukiran ini dibuat saat keduanya masih menjadi siswa di sekolah ini," ujar Sakura yang dibalas dengan ekspresi kagum dari Hinata.
"Lalu... apa kau juga sudah membuat ukiran namamu dengan Sasuke?" tanya Hinata.
"Tidak," jawab Sakura.
"Kenapa?"
"Itu karena, yang bisa membuat ukiran hanyalah orang-orang yang menyatakan perasaannya tepat di bawah pohon ini. Begitulah aturan mainnya sejak dulu," jawab Sakura dengan wajah yang sedikit murung.
"Memangnya di antara kalian berdua siapa yang duluan menyatakan cinta? Dan di mana?" Hinata menyandarkan tubuhnya ke pohon.
Sebelum menjawab, Sakura mendengus kesal. "Yang pertama menyatakannya adalah Sasuke. Dan lokasi yang dia pilih untuk menembakku sangat spektakuler. Orang-orang pasti tidak akan menyangka Sasuke memilih tempat seperti itu!" ketusnya.
"Memangnya di mana?" Hinata bingung melihat ekspresi kesal Sakura.
"Kau mau tahu?" tanya Sakura yang dibalas dengan anggukan cepat dari Hinata.
"Di WC! Dia menembakku di WC, Hinata! Dan parahnya lagi, saat itu kami berada di WC lelaki! Huwah! Sasuke bodoh!" Sakura menjambak rambutnya-frustasi.
Hinata merasa kasihan pada temannya itu. "Sabar, Sakura..." hiburnya.
"Lalu bagaimana dengan Naruto? Kemarin kau melihat saat dia menyatakan perasaannya padaku kan? Apa dia baik-baik saja?" Sakura segera mengganti topik pembicaraan.
"Ng..." Hinata mengerutkan dahinya-dia berusaha mengingat apakah Naruto terlihat aneh atau tidak. Tapi sepanjang ingatannya, Naruto terlihat biasa-biasa saja. "Aku kurang tahu, tapi dia biasa-biasa saja," ujarnya.
Sakura pun ber-oh-ria.
"Sebenarnya, aku sudah lama menyadari perasaan anak itu, tapi aku tidak bisa menganggapnya lebih dari seorang teman. Meski begitu, dia merupakan salah satu teman baikku. Dia memang terlihat bodoh, tapi ada kalanya dia akan terlihat dewasa. Meski cerewet, dia sebenarnya sosok yang peduli pada teman-temannya. Aku tidak ingin merusak hubungan pertemanan kami," ujar Sakura. Dia menengadahkan kepalanya untuk melihat dahan-dahan pohon yang tampak bergerak-gerak karena hembusan angin. "Tapi aku yakin, dia akan menemukan gadis yang lebih baik dariku," lanjutnya sambil tersenyum.
"Aku setuju," balas Hinata.
Oo*w*oO
Tidak terasa, Hinata sudah berada di Enda High School selama empat hari. Semenjak penyamarannya diketahui Sakura, Hinata lebih merasa leluasa-karena bisa mengobrol dengan sesama gadis. Meski begitu, keduanya juga tetap berhati-hati karena bisa saja orang-orang jadi curiga.
Kini, Naruto dan Hinata sedang duduk di salah satu kursi taman yang ada di daerah sekitar pohon seratus tahun. Keduanya tampak lelah karena baru saja memindahkan barang-barang bekas ke gudang-mereka di suruh Tsunade.
"Ah... capek..." keluh Hinata sambil tertunduk lemas.
"Setuju," balas Naruto. Dia kemudian memejamkan kedua matanya untuk menikmati hembusan angin sore yang sesekali menerpah wajahnya.
Saat keduanya sedang sibuk dengan pikiran masing-masing, tampak seorang gadis berambut soft pink dan pemuda berambut raven berjalan ke arah mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya gadis itu sesampainya di depan Hinata dan Naruto.
"Eh? Hai, Sakura." Hinata agak terkejut melihat gadis itu dan seorang pemuda-Sakura dan Sasuke.
"Untuk apa kau ke sini, Sasuke? Kau membuatku gerah!" gerutu Naruto sambil mengibaskan keras bajunya.
Sasuke diam saja. Dasar Uchiha!
Tidak lama setelah itu, tampak pemuda bertato merah di kedua pipinya sedang berjalan ke arah mereka. Dia tampak memegangi anjing putih yang berada di atas kepalanya. Dengan senyum lebar, dia pun mempercepat langkahnya ke arah Naruto dan yang lainnya.
"Hei, teman-teman!" sapa pemuda itu yang tidak lain adalah Kiba.
"Guk! Guk!" Anjingnya-Akamaru juga ikut menyapa.
Melihat Kiba, Hinata tidak merasakan apa-apa. Namun saat melihat Akamaru, dia langsung merasakan firasat buruk. Dan benar saja. Saat melihat ke arahnya, Akamaru langsung menggonggong-membuatnya panik.
"Guk! Guk! Guk!"
"Hei, lagi-lagi kau bersikap kasar pada Neji. Sebenarnya ada apa, Akamaru?" Kiba menahan Akamaru yang tampak ingin menyerang Hinata.
"Guk! Guk! Guk! (Dia orang asing!)"
Kiba mengangguk mengerti. "Kau ingin pipis ya? Kenapa tidak bilang dari tadi." Kiba pun membawa Akamaru ke semak-semak yang ada di sekitar taman.
"Guk! Guk! (Aku tidak mau pipis, bodoh!)"
"Iye... sabar!" balas Kiba sok tau.
Saat Kiba meletakkan Akamaru di semak-semak, Akamaru segera berlari ke arah Hinata.
"Hei! Mau pipis atau tidak?" tanya Kiba.
"Guk! Guk!"
Menyadari kedatangan Akamaru, Hinata langsung panik. Sangat jelas terlihat anjing itu bermaksud menyerangnya. Dia pun segera menuruti instingnya, yaitu... LARI! Hal itu membuat Akamaru sebagai seekor anjing terpancing untuk mengejarnya.
"Huwaahh! Tolong aku!" teriak Hinata yang langsung mempercepat larinya.
"Guk! Guk!"
"Hei, Akamaru. Apa yang kau lakukan?" Kiba segera mengejar anjingnya yang langsung diikuti oleh Sakura, Sasuke, dan Naruto.
Dan pada akhirnya, mereka semua saling kejar-kejaran di taman. Tsunade yang kebetulan melihat mereka dari balik jendela kantornya langsung terkesima. "Mereka bahagia sekali. Dasar remaja..." gumamnya yang diakhiri dengan senyum manis yang jarang diperlihatkan pada orang lain.
Saat Hinata melirik ke belakang untuk melihat Akamaru, kakinya tersandung akar pohon yang ada di situ. Alhasil, dia pun terjatuh-membuat tubuhnya terbentur ke tanah yang telah dilapisi rerumputan.
"Aduh!" rintih Hinata yang berusaha bangun. Dia kemudian melihat ke arah Akamaru yang sudah sangat dekat. Jika saja Kiba tidak segera menangkapnya, anjing itu pasti sudah menyerang Hinata.
"Guk! Guk!"
"Hentikan, Akamaru!" perintah Kiba sambil menahan anjingnya yang terus saja meronta.
Sakura berlari ke arah Hinata yang tampak menahan sakit. Dia begitu panik dan tanpa sadar dia pun berteriak. "HINATA! Kau tidak apa-apa kan? Apa kau terluka? Di mana? Cepat katakan!" tanyanya.
"Ti..tidak apa-apa. A..aku baik-baik saja," bohong Hinata. Padahal kaki kanannya terkilir akibat tersandung.
"Jangan bohong! Tidak mungkin kau baik-baik saja!" bentak Sakura.
Hinata pun tertunduk. Dia hanya tidak ingin membuat orang-orang khawatir karenanya."Ka..kakiku terkilir," ujarnya pelan.
"Apa maksudmu, Sakura?" Naruto berjalan pelan ke arah gadis itu.
"Siapa itu Hinata?" tanya Kiba.
"Kenapa kau begitu peduli pada Neji?" Sasuke merasa cemburu melihat kekasihnya yang sedang panik itu.
Sakura terdiam. Dia baru menyadari kecerobohannya. Sedangkan Hinata tidak terlalu peduli akan hal itu, yang terpenting adalah, bagaimana caranya agar dia bisa bertahan dengan rasa sakit yang menjalar di kakinya. Untuk kesekian kalinya, Hinata meringis kesakitan.
"Sakura?" panggil Sasuke.
Sakura memejamkan kedua matanya dan menghembuskan napas panjang. Setelah itu, dia menatap Sasuke. "Maaf, Sasuke. Tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan," ujarnya.
"Sssshh..." Hinata meringis kesakitan.
"Kita harus membawa Neji ke UKS," ujar Kiba. "Naruto, cepat gendong Neji!" perintahnya.
"Kenapa harus aku?" tanya Naruto yang terdengar seperti keluhan.
"Aku sedang sibuk menenangkan Akamaru! Jadi kau saja yang menggendongnya. Lagi pula kalian teman satu kamar kan? Jadi berbuat baiklah padanya!" jelas Kiba.
"Kiba benar. Cepat bawa Neji!" perintah Sasuke.
"Jangan berani memerintahku!" protes Naruto. Namun setelah itu, dia segera mendekati Hinata dan segera berjongkok tepat di depan gadis itu.
"Eh?" Hinata tampak bingung.
"Cepat naik ke punggungku!" perintah Naruto.
"A..apa?" Hinata terbelalak.
"Sudah. Tidak apa-apa. Kau naik saja," ujar Sakura yang segera membantu Hinata berdiri.
"Ta..tapi –"
Hinata terdiam saat melihat senyum hangat Sakura. Dengan perasaan canggung, Hinata meletakkan kedua tangannya di punggung Naruto. Perlahan namun pasti, dia mengeratkan pegangannya di bahu pemuda itu. Naruto pun segera berdiri, membuat jantung Hinata semakin berdebar-debar.
Deg! Deg! Deg!
"Hhmm... kenapa kau begitu ringan?" tanya Naruto saat sudah berada setengah jalan menuju UKS.
"Be..benarkah? Aku pikir aku sangat berat," balas Hinata dengan wajah yang memerah. Dia belum pernah di gendong oleh lelaki sebelumnya-kecuali ayahnya dan Neji. Makanya dia terlihat sangat canggung.
Sakura dan yang lainnya mengikuti mereka dari belakang.
Sesampainya di UKS, Naruto segera mendudukkan Hinata di ranjang berukuran kecil.
"kau tidak apa-apa kan?" Naruto tampak cemas melihat Hinata yang terus saja meringis kesakitan.
"I..iya," balas Hinata.
"Kiba, cepat ambil es batu untuk kaki Neji! Sasuke, tolong jaga Akamaru agar dia tidak menyerang Neji! Naruto cepat buka sepatu Neji dan lihat apa kakinya membengkak atau tidak!" perintah Sakura dengan mimik panik-membuat Hinata teringat sang ibu.
Meski kurang setuju, Sasuke tetap menurut. Dia pun segera memegang Akamaru dan menjauhkan dari Hinata. Setelah membungkus pecahan es batu menggunakan handuk putih kecil, Kiba segera menyerahkan bungkusan itu pada Naruto. Setelah menyeret kursi ke samping ranjang dan mendudukinya, Naruto pun meletakkan kaki kanan Hinata di pahanya dan mulai mengkompres kaki gadis itu-Hinata dengan hati-hati.
"Kalau sakit, katakan saja. Jangan ditahan," ujar Naruto saat melihat Hinata tampak kesakitan namun dia tidak ingin bersuara.
"Ba..baik," balas Hinata gugup.
Saat sedang mengkompres, Naruto terkesima melihat betis Hinata yang kebetulan pada saat itu dia-Hinata sedang memakai celana selutut.
"Ada apa, Naruto?" tanya Hinata saat menyadari pemuda itu terus saja melihat betisnya.
"Apa yang sudah kau lakukan pada bulu betismu?" tanya Naruto penasaran.
"Eh?" Hinata mengerutkan dahinya-tidak mengerti.
Naruto pun mendekatkan wajahnya dan memelankan nada suaranya. "Bukankah... bulu betismu itu panjang-panjang dan geriting? Lalu kenapa sekarang sangat mulus? Apa kau mencukurnya?" tanyanya.
Hinata terdiam. Dia tidak harus membuat alasan yang seperti apa.
"Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa Akamaru tiba-tiba menyerangmu, Neji? Seingatku, dia hanya melakukan itu pada orang asing. Atau jangan-jangan kau pernah membuatnya kesal, seperti mengatakan kalau dia itu mirip anjing kampung," tebak Kiba sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jujur saja, aku merasa ada yang aneh dengan Neji," komentar Sasuke yang sedari tadi hanya diam.
"Guk! Guk! (Aku setuju dengan Sasuke!)"
"Berisik, Akamaru! Kau lebih baik diam, atau aku akan membakarmu hidup-hidup!" bentak Sakura kesal. Dia tidak terima sahabatnya terluka gara-gara anjing itu.
"Hei! Jangan membakar Akamaru!" protes Kiba.
"Berisik, Kiba!" Naruto kesal mendengar teriakan pemuda beraroma anjing itu.
"Seperti yang Kiba katakan, Akamaru hanya akan bersikap kasar pada orang asing. Itu artinya... orang itu adalah orang asing!" Sasuke menudingkan jari telunjuknya ke arah Hinata dan menatap tajam ke arah gadis itu.
Deg!
Hinata dan Sakura terdiam. Keduanya tampak sangat kaku.
"A..apa maksudmu, Sasuke?" tanya Sakura yang pura-pura tidak mengerti.
"Bukankah tadi kau memanggil Neji dengan sebutan Hinata? Siapa itu Hinata?" tanya Sasuke dengan nada memerintah.
"Sasuke benar. Tadi kau memanggil Neji seperti itu. Iya kan, Sakura?" tanya Kiba penasaran.
"Hinata? Hei! Bukankah itu nama kembaran Neji?" tebak Naruto yang sukses membuat Hinata dan Sakura terbelalak.
"Kembaran Neji? Aku baru mendengar hal itu!" Kiba menatap Naruto tidak percaya.
"Benarkah? Mengejutkan sekali!" Sasuke mengerutkan dahinya.
"A..apa yang kalian bicarakan? Ini adalah Neji!" bohong Sakura.
"Katakan yang sebenarnya, Sakura!" Sasuke menatap kekasihnya. Onyx bertemu emerald. Yang mana yang akan menang? Tentu saja onyx karena Sakura segera memalingkan pandangannya-tidak berani membalas tatapan tajam Sasuke.
Hinata terdiam. Dia sedang memikirkan jalan keluar dari permasalahan ini. Setelah berpikir cukup lama, dia pun membuat keputusan, yaitu...
"Sebelumnya, aku minta maaf karena sudah berbohong pada kalian semua." Hinata angkat bicara.
Itu membuat orang-orang langsung melihat ke arahnya-termasuk Sakura yang tampak cemas menunggu kelanjutan dari kata-katanya.
"Aku adalah seorang... gadis!" ujar Hinata mantap sambil melihat ketiga pemuda yang ada di depannya, tapi tidak dengan Akamaru-dia masih kesal pada anjing itu.
Mata Naruto terbelalak sempurna, mulut Kiba menganga sempurna, dan saking terkejutnya, Sasuke menjatuhkan Akamaru dengan sempurna. Itu membuat Akamaru sangat kesal dengan sempurna(?). Dia pun langsung menggonggong, namun tidak ada yang menghiraukannya. Kasihan!
"APA?" teriak Naruto, Kiba, dan juga Sasuke.
.
.
.
To be continued...
Wih! Entah sudah berapa kali saya mengedit chapter ini. Jika ada adegan yang menurut saya tidak penting, saya akan segera menghapusnya. Sungguh melelahkan! Bagaimana? Apa chapter ini bagus? Di chapter ini, ceritanya masih ringan namun mulai chapter selanjutnya–InsyaAllah romance antara Hinata dan Naruto dimunculkan. Gimana? Hebatkan? #Readers :"Biasa aja tuh!" Di fic ini, Hinata dan Neji memiliki seorang ibu yang selalu saja melebih-lebihkan sesuatu. Tak apalah. Lalalala... Bhuag! #kesandung batang pisang.
Karena tanggal 11 Juli saya dan teman-teman akan menjalani MOS di SMK, jadi mungkin saya akan telat update fic. Jadi mohon sabar, ya? Oh iya, saya ingin bertanya pada teman sesama Author-tapi jika yang bukan author mau menjawab, silahkan! Pertanyaannya adalah berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk membuat satu chapter fic? Apakah beberapa jam saja atau sampai berhari-hari? Saya tidak tahu, apakah hal yang terjadi pada saya ini wajar atau tidak, tapi untuk membuat fic ini, saya meluangkan waktu 4 hari, 4 malam! Sungguh melelahkan dan memusingkan! Tapi review para readers selalu memberi kekuatan pada saya. Ini gak sekedar gombal lho, ini serius!
Nah, akhir kata... minta review-nya please... *w*